Mengenal sifat-sifat Allah SWT dalam Aqidah Ahlussunah wal jama'ah
بسم الله الرحمن الرحيم
Sifat-sifat Allah SWT
Untuk dapat ma'rifatullah maka kita harus kenal sifat-sifat Allah SWT.
Sifat Allah SWT tidak berbatas.
Segala sifat kesempurnaan yang sesuai dengan keagungan Allah SWT, maka itulah sifat-sifat Allah SWT.
Dalam aqidah kita Ahlussunah Waljama'ah Al-Asy'ariah dikenal dengan sifat 20.
Sifat 20 adalah: sebagian sifat-sifat Allah SWT yang wajib diyakini oleh orang beriman, ini dimiliki oleh Allah SWT.
Sifat wajib bagi Allah SWT berarti: sifat yang wajib bagi kita untuk meyakini ada pada Allah SWT, bukan wajib bagi Allah SWT untuk bersifat demikian.
Allah SWT tidak wajib atas apapun.
Dari sifat 20 yang dibahas ulama karena: itu mengundang penentangan-penentangan dari orang diluar Islam atau orang Islam yang beraqidah sesat. Penentangan2 tersebut, di antaranya:
- Wujud Allah SWT dengan kaum ateis.
- Qidam Allah SWT dengan kaum falasifah/filosof.
- Mukhalafatuhu lilhawadish dengan kaum mujassimah.
- Qudrah & iradah Allah SWT dengan kaum m'uktazilah.
- Kalam Allah SWT dengan kaum m'uktazilah.
Sifat 20 yang wajib bagi Allah SWT, yaitu:
1. Wujud:ada
2. Qidam: sedia, dahulu
3. Baqa: kekal,abadi
4. Mukhalafatuhu lilhawadish: berbeda dengan yang bahru
5. Qiyamuhu binafsihi: berdiri sendiri
6. Wahdaniah: esa,tunggal
7. Qudrah: kuasa
8. Iradah: berkehendak
9. 'Ilmu: mengetahui
10. Hayyah: hidup
11. Sama': mendengar
12. Basar: melihat
13. Kalam: berkata-kata
14. Qadiron: maha berkuasa
15. Muridon: maha berkehendak
16. 'Alimon: maha mengetahui
17. Hayyon: maha hidup
18. Sami'on: maha mendengar
19. Basiron: maha melihat
20. Mutakalimon: maha berkata-kata.
Ulama Ahlussunah Waljama'ah Al-Asy'ariah membagi sifat 20 itu menjadi 4, yaitu:
1. Sifat Nafsiah
2. Sifat Salbiah
3. Sifat Ma'ani
4. Sifat ma'nawiyah
1. Sifat Nafsiah
Nafsiah artinya: sesuatu yang bersifat ini segala sesuatu tidak akan sah disifati dengan sifat-sifat yang lain kecuali memang ada sifat ini.
Sifat menunjukkan adanya zat itu sendiri.
Sifat nafsiah ada 1, yaitu:
- Wujud.
2. Sifat Salbiah
Salbiah ialah: sifat yang meniadakan sifat sesuatu yang tidak pantas pada Allah/ meniadakan sifat yang berlawanan dengannya.
Sifat Salbiah ada 5, yaitu:
- Qidam
- Baqa
- Mukhalafatuhu lilhawadish
- Qiyamuhu binafsihi
- Wahdaniah
3. Sifat Ma'ani
Sifat Ma'ani itu: wujudiah (ada), nyata.
Sifat Ma'ani ada 7, yaitu:
- Qudrah
- Iradah
- 'Ilmu
- Hayyah
- Sama'
- Basar
- Kalam
4. Sifat Ma'nawiyah
Sifat Ma'nawiyah ada 7, yaitu:
- Qadiron
- Muridon
- 'Alimon
- Hayyon
- Sami'on
- Basiron
- Mutakalimon
1. Wujud: ada
Bagaimana sifat zat yang maha wujud ?
Akal yang selamat tidak akan bertentangan dengan nas selamanya.
Jika ada bertentangan antara akal dengan nas, yang perlu ditinjau adalah: mungkin akal itu salah memahami tentang nas tersebut sehingga terlihat bertentangan.
Jika hakikat yang dipahami akal itu benar, termasuk kajian-kajian atau penemuan ilmiah, jika penemuan ilmiah itu bertentangan dengan syari'at, maka 2 kemungkinan:
1. Penemuan itu adalah:dusta.
2. Orang/penemu penemuan itu salah dalam memahami nas/syariat.
Kata Imam Abul Hasan Al-Asy'ari, bahwasanya: " wujud Allah itu adalah: wujud zat Allah SWT itu sendiri ".
Ada juga pendapat ulama lain, seperti: Imam Razi menyatakan: " wujud Allah bukanlah zat-Nya Allah SWT, akan tetapi ia adalah: hal/wasitah antara wujud(ada) dengan 'adam(tiada).
Wujud tidak setinggi dikatakan sebagai zat Allah SWT,juga tidak turun ke wilayah 'adam(tiada).
Allah ada tidak ada yang mengadakan.
Wujud Allah SWT: maha dahulu dan tidak berbatas, tidak ada permulaan dan tidak ada pengakhiran.
Sehingga wujud Allah SWT ada hubungannya dengan sifat Allah yang lain, yaitu: Qidam&Baqa Allah SWT.
2. Qidam: sedia, dahulu
Qidam Allah SWT adalah: zati, sesuatu yang dahulu dan tidak ada yang mengadakan.
Allah SWT tidak butuh zaman/waktu, tempat.
Allah SWT ada sebelum zaman/waktu & tempat itu diciptakan.
Sedangkan kita makhluk, membutuhkan zaman/waktu, tempat.
Hal ini berhubungan dengan sifat Allah SWT lainnya, yaitu: Mukhalafatuhu lilhawadish (berbeda dengan yang bahru).
Definisi zaman/waktu:
Waktu itu ditandai dengan terbitnya matahari, bagi makhluk. Kaum Al-Asy'ari menyatakan: definisi zaman/waktu adalah: sesuatu yang selalu berulang-ulang yang sudah diketahui dengan sesuatu yang berulang-ulang atau sesuatu yang baru tapi tidak bisa diketahui untuk menghilangkan ketidak tahuan tentang sesuatu tersenbut.
Disebut adanya suatu zaman karna:ada sesuatu tersebut.
Zaman hubungan dengan hawadis(bahru).
Allah SWT maha dahulu tidak ada permulaan, maka: Allah SWT tidak ada akhir, Allah SWT maha abadi dari zat Nya.
Pemberian nama sifat Allah SWT: qidam tidak ada didalam Al-Qur'an & hadist.
Akan tetapi dijawab oleh para ulama-ulama, bahwasanya:
" Pemberian nama sifat Allah SWT qidam ditinjau dari makna, yang dengan makna ini akan mencakup dengan sifat Allah SWT yang menunjukkan: bahwa Allah SWT itu adalah: dahulu, bukan pemberian nama sifat secara khusus akan tetapi maknanya yang diinginkan disini ".
3. Baqa: kekal,abadi
Allah SWT maha abadi dari zat-Nya.
Segala sesuatu tidak ada yang abadi, kecuali: Allah SWT.(Secara akal)
Secara syara' ada makhluk yang abadi, yaitu: surga dan neraka. Surga dan neraka abadi bukan karna zatnya,akan tetapi surga dan neraka abadi karna: diabadikan oleh Allah SWT zat yang maha abadi.
Ada beberapa hal tentang sesuatu:
* Ada sesuatu yang dahulu, dahulu, yang tidak ada akhirnya, yaitu: Allah SWT.
* Ada sesuatu yang tidak ada permulaannya tapi ada akhirnya, apa itu yaitu: tiadanya kita. Berakhir tiadanya kita ketika kita diadakan.
* Ada sesuatu yang ada permulaan dan akan berakhir,apa itu yaitu: wujud kita (makhluk).
* Ada sesuatu yang ada permulaan dan akan abadi secara syara', yaitu: surga dan neraka. Surga dan neraka abadi bukan karna zatnya, akan tetapi abadinya surga dan neraka karna diabadikan oleh:zat yang maha abadi, yaitu: Allah SWT.
Dalam manzumah Iman Al-Baijuri menyatakan:
" Segala sesuatu yang boleh tidak ada maka mustahil ia mempunyai sifat qidam, segala sesuatu yang bakal berakhir maka mustahil kalau ia dahulu, segala sesuatu yang boleh berakhir maka tidak akan disebut sesuatu yang qidam, dan yang disebut sebagai sesuatu yang qidam maka ia tidak akan berakhir, dan segala sesuatu yang berakhir ia tidak akan disebut dahulu".
4. Mukhalafatuhu lilhawadish: berbeda dengan yang bahru
Kita harus meyakini bahwa Allah SWT berbeda dengan makhluk-Nya.
Tidak ada yang menyerupai Allah SWT dalam hal apapun, semua yang pernah kita hadirkan/bayangkan dari semesta/jagat raya, dari apa yang pernah kita lihat, baik dari kebaikan ataupun yang tidak baik, semua yang pernah kita lihat dengan alat indra kita, kita dengar ataupun yang kita hayalkan semampu, sekuat, sedahsyat apapun kita berharap, atau dalam dugaan yang kita fikirkan dalam lintasan-lintasan, maka semuanya itu ketahuilah, Allah SWT berbeda dari itu semuanya.
Dikatakan Saidina Abu Bakar As-siddik:
" Allah SWT tidak boleh masuk dalam dalam hayalkanmu, Allah SWT tidak boleh diliputi oleh fikiranmu, dan Allah SWT tidak bisa di Indra oleh indramu, Allah SWT yang menciptakan indramu, Allah SWT yang menciptakan fikirmu, Allah SWT yang menciptakan hayalmu, maka mustahil kalau Allah SWT bisa masuk dalam hayalmu, Allah SWT tidak masuk dalam apa yang kamu fikirkan, Allah SWT tidak bisa dijangkau oleh indramu,karna Allah SWT tidak seperti yang kau hayal yang kau lihat . "
Dalam hal ini, ada ayat-ayat Allah SWT didalam Al-Qur'an yang menyatakan tentang tangan Allah SWT, istiwak Allah SWT, dan lainnya yang dikenal dengan ayat-ayat yang mutasyabihat, yang menimbulkan banyak pertentangan dalam aqidah.
Dalam ayat-ayat yang mutasyabihat, dalam hal ini sebagian mentakwili, sebagian mengikuti hawa nafsunya dengan takwil-takwil , akan tetapi tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah SWT.
Aqidah Ahlussunah Waljama'ah Al-Asy'ariah menjelaskan dengan ulasan yang panjang tentang permasalahan ini.
Takwil adalah: memberi makna tentang lafaz tidak seperti zohirnya.
Kita Aqidah Ahlussunah Waljama'ah dalam menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihat, mempunyai 2 manhaj:
- Manhajnya ahli tafwid
- Manhajnya ahli takwil
Manhajnya ahli tafwid:
" Tidak ada siapapun dari manusia yang boleh mentakwili tentang tangan Allah, istiwak Allah, dan seterusnya."
Jika menemukan ayat-ayat yang mutasyabihat, " serahkan semua kapada Allah SWT "
Ayat yang menyatakan " Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah SWT ", cukup sampai disitu berhenti.
Manhajnya ahli takwil:
Ayat yang menyatakan" Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah SWT " tidak berhenti sampai disitu, akan tetapi ada sambungannya,
" Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah,dan orang-orang yang mempunyai kekuatan ilmu ".
Ini Manhajnya ahli takwil.
5. Qiyamuhu binafsihi: berdiri dengan sendiri
Allah SWT tidak butuh siapapun dari makhluk dalam segala apapun.
Hidup Allah SWT zati dari zat Allah, sehingga Allah SWT tidak perlu sesuatu yang lain untuk menghidupkan Allah.
Kita hidup karna Allah SWT yang menghidupkan, kita butuh kepada Allah SWT.
Allah SWT tidak terdiri dari jisim.
Allah bukan jauhar dan Allah bukan 'arats dan Allah tidak butuh'arats.
Jisim adalah: kumpulan dari jauhar-jauhar.
Jauhar adalah: sesuatu yang berdiri sendiri untuk makhluk.
Jauhar butuh 'arats.
'Arats adalah: sifatnya jauhar.
Jauhar & 'arats : sifatnya makhluk.
Dalam hal ini, ada kelompok sesat:
1. Mujassimah: menyatakan Allah SWT berjisim.
2. Musyabbihah: menyerupakan Allah SWT dengan makhluk.
Yang menyatakan Allah SWT diatas langit juga sesat, karna langit adalah: makhluk.
Allah SWT tidak membutuhkan makhluk.
6. Wahdaniah: esa,tunggal
Maha tunggal Allah SWT didalam segalanya.
Maha tunggal didalam zat-Nya & maha tunggal didalam sifat-Nya.
Untuk meyakini ketunggalan zat Allah SWT, maka kita harus menafikkan/menolak 5 hal :
1. Al-kam al-munfasil fi zat : menolak ada bilangan di dalam zat Allah SWT/ada zat lain selain Allah SWT yang dianggap tuhan.
2. Al-kam al-muttasil fi zat : menolak zat Allah SWT satu tapi terdiri dari bagian-bagian/unsur-unsur/juzuk-juzuk.
3. Al-kam al-munfasil fi sifat : menolak ada sifat-sifat Allah SWT berbilang.
Contoh: meyakini kudrah Allah ada 2.
4. Al-kam al-muttasil fi sifat : menolak ada sifat Allah SWT ada pada selain Allah.
Contoh: meyakini ada kekuatan pada jimat.(termasuk dalam syirik)
5. Al-kam al-munfasil fi af'al : menolak ada pekerjaan selain pekerjaan Allah SWT.
Contoh: tidak boleh meyakini api itu membakar, yang membakar sesungguhnya Allah . ( Api membakar bukan dengan zatnya api, akan tetapi api membakar sesungguhnya karna Allah yang menghendaki api membakar).
Berbilangnya Tuhan adalah: mustahil.
Jika Tuhan itu berbilang, niscaya semesta/alam tidak akan terwujud ( Al-Qur'an menyebutkan hal demikian).
Jika Tuhan itu berbilang/ada 2, ulama Ahlussunah Waljama'ah memaparkan 2 dalil penolakan (dalil aqli), yaitu:
1. Dalil tawarut
2. Dalil tamanu'
1. Dalil tawarut : jika ada 2 tuhan mempunyai keinginan bersama untuk menciptakan sesuatu yang satu, bagaimana hubungan tuhan dengan sesuatu tersebut. Jika tuhan itu 2, siapa yang menciptakan barang/sesuatu tersebut.
Dalil tawarut ini dua-duanya punya peran didalam menciptakannya, muncul pertanyaan.
Apakah mereka menciptakan bareng-bareng atau beriringan ?
Maka dalil penolakannya, 3:
* Jika meraka bareng-bareng menciptakannya, maka mustahil jika ada 1 asar dengan 2 muassir, sesuatu yang satu diciptakan oleh 2 orang.
* Jika mereka menciptakan bergantian, tentu yang ke 2 adalah: mengerjakan sesuatu yang sudah terjdi, berarti yang ke 2 tidak membuat, berarti dia tidak ada peran menjadi tuhan yang menciptakan.
* Jika mereka membagi kerja dalam menciptakan , misalnya: dalam menciptakan bumi, separuh diciptakan tuhan A yang separuh lagi diciptakan tuhan B, maka jelas tuhan A berkuasa atas belahan bumi A dan tuhan B berkuasa atas belahan bumi B. Bagaimana hubungan tuhan A dengan belahan bumi A ? Jelas ia menciptakannya, akan tetapi urusan tuhan A dengan belahan bumi yang B, berkuasa atau tidak ? Maka jelas tidak berkuasa, jika tuhan A tidak berkuasa di belahan bumi B tidak pantas menjadi tuhan karna dia tidak kuasa, dikatakan tidak berkuasa karna: kekuasaannya dibatasi oleh tuhan yang lainnya, dan itu: mustahil.
Kesimpulan: " menyatakan ada 2 tuhan menciptakan 1 hal yang sama adalah: mustahil."
2. Dalil tamanu' : jika 2 tuhan mempunyai keinginan berbeda dalam menciptakan.
Misalnya: 1 tuhan mewujudkan sesuatu 1 lagi menghancurkannya. Apakah dua-duanya akan terlaksana karena mereka mempunyai kekuasaan mutlak ?
Kalau dua-duanya terlaksana tidak mungkin wujud sesuatu tersebut.
Yang satu mempunyai kekuatan mutlak untuk menciptakan yang satu lagi juga mempunyai kekuatan mutlak untuk menghancurkan, maka mustahil karena tuhan adalah: mutlak.
Jika seandainya tuhan yang pertama menginginkan adanya semesta, lalu mewujudkan semesta, tuhan kedua: tidak bisa mewujudkan semesta. Berarti: tuhan ke 2 lemah dalam mewujudkan, selagi lemah tidak patut disebut: tuhan. Selagi tidak pantas dikatakan tuhan ,dengan menyatakan dia dengan tuhan yang satu sama, berarti tuhan yang pertama pun sama dengan tuhan yang ke 2, kekuasaan tidak mutlak.
Karena segala sesuatu yang dibilang sama, maka jika dikatakan tuhan yang satu tidak mampu dikatakan sebagai tuhan, maka tuhan yang lainnya pun tidak mampu dikatakan sebagai tuhan.
" Tuhan Allah SWT: mutlak, jika menghendaki sesuatu akan wujud,da tidak ads yang bisa menghalangi."
7. Qudrah: kuasa
Qudrah Allah SWT hubungannya hanya ada dengan mumkinat(bahru), tidak dengan wajibat ataupun mustahilat.
8. Iradah: berkehendak
Iradah Allah SWT hubungannya dengan mumkinat ( bahru), tidak wajibat ataupun mustahilat.
Kita juga mempunyai kehendak, akan tetapi kita berkehendak karna Allah menghendaki kita berkehendak.
9. Ilmu: mengetahui
Ilmu Allah SWT meliputi segala sesuatu.
Ilmu Allah SWT hubungannya dengan semuanya ( wajibat, mustahilat,mumkinat/jaiz).
Ilmu Allah SWT dahulu, dahulu,dan dahulu,tidak berpemulaan.
Ilmu Allah SWT bukan: muktasab (dicari,dari tidak tahu menjadi tahu).
Ilmu Allah SWT juga bukan: nazari ( merenung/berfikir untuk mengetahui).
Muktasab & nazari ialah: untuk kita makhluk.
Kudrah, iradah, ilmu adalah: sifat maha dahulu. Kudrah, iradah, ilmu dikatakan dahulu, dia bukan zat Allah SWT sehingga bisa dikatakan sifat, dan juga bukan selain zat Allah SWT.
Ulama Ahlussunah Waljama'ah Al-Asy'ariah menjelaskan:
Antara sifat-sifat Allah SWT dengan Allah bukan satu, dan juga bukan selain dari zat Allah SWT.
Karena ia adalah: sifat qaimah bi zati ta'ala. Dengan adanya Allah SWT maka sifat itu pasti ada dan tidak bisa terpisahkan,tapi sifat itu bukan Allah SWT.
Jadi, saat mengatakan sifat itu bukan Allah SWT berarti ada perbedaan.
10. Hayyah: hidup
Definisi hayat secara umum adalah: cara/sesuatu yang ada pada manusia atau pada kehidupan yang dengan sesuatu tersebut menjadi bisa merasakan, bisa menyentuh, dst.( Untuk makhluk)
Hidup Allah SWT : qadim dan tidak terbatas.
Yanh bisa menjadikan sifat Allah SWT Qudrah, Iradah, dll semua sifat-sifat Allah itu, akan baru dianggap sebagai sifat: jika dimiliki oleh zat yang Maha hidup.
11. Sama': mendengar & 12. Basar: melihat
Sifat sama' & Basar adalah: sifat Allah SWT yang ada dari dahulu & dahulu tidak ada permulaan ada pada Allah SWT.
Hubungan sama' &basar Allah SWT : dengan segala yang ada.
13. Kalam : berkata-kata
Kaamullah itu: sifatun qadimaton azaliyaton qaimaton bi zattillahita'ala min ghairi harfen wala sauten wala takhidimin wala takhiren ( sifat dari dahulu terdahulu ada pada Allah SWT, tapi keberadaannya pada Allah tidak dengan suara tidak dengan huruf tidak ada yang dahulu dan tidak ada yang akhir ).
Sifat Ma'nawiyah sama penjelasannya dengan sifat ma'ani.
14. Qadiron = Qudrah Allah SWT.
15. Muridon = iradah Allah SWT.
16. 'Alimon = 'Ilmu Allah SWT.
17. Hayyon= hayyah Allah SWT.
18. Sami'on = sama' Allah SWT.
19. Basiron = basar Allah SWT.
10. Mutakalimon = kalam Allah SWT.
Hukum nya : hukum akal tentang wajibnya sifat-sifat Allah SWT tersebut, yakni: bahwasanya akal itu tidak bisa menerima dan tidak bisa mempercayai kalau Allah SWT itu bersifat dengan lawannya.
Artinya: akal kita memberikan satu keputusan hukum kemustahilan Allah SWT untuk mempunyai sifat kurang, yang melawan/menafikan sifat-sifat yang telah ditetapkan diatas Allah SWT, dan menepis sifat-sifat rus daripada zat Allah SWT, dan juga disebutkan dalam Al-Qur'an dan juga hadits Nabi Muhammad Saw bahwasanya: Allah SWT tidak bersifat dengan addat tersebut (lawan dari sifat-sifat yang wajib).
Sifat mustahil bagi Allah SWT
Sifat mustahil bagi Allah SWT ialah: sifat yang tidak mungkin ada pada zat Allah SWT kebalikan dari sifat yang wajib kita yakini ada pada Allah SWT, yaitu:
1. Adam
2. Hudus
3. Fana
4. Mumasalatu lilhawadish
5. Ihtihaju ila mu'alem aw mu'disen
6. Ta'dut
7. Ajzon
8. Mukrahon
9. Jahlon
10. Mauton
11. Assamamon
12. Amma
13. Bakamon
14. Ajzan
15. Mukrahan
16. Jahlan
17. Mautan
18. Assamma
19. A'ma
20. Abkam.
Sifat mustahil bagi Allah SWT lainnya:
- Allah SWT itu berada di jihat ( arah (kiri, kanan, atas, bawah), tempat).
Harus ditepis/ditiadakan, menafikan jihat ini harus.
Jihat itu adalah: nisbi.
Jihat itu untuk kita makhluk, dan tidak untuk Allah SWT.
Imam An-nisafi pakar aqidah Ahlussunah Waljama'ah Asy'ariah , mengatakan bahwasanya: " Allah SWT berada di jihat itu mustahil, sebab jihat itu banyak, artinya: jika dikatakan Allah SWT itu menempatkan 1 jihat/tempat, tidak ada kelebihan antara jihat 1 dengan jihat yang lain ".
Imam Subki juga menyatakan :
" Pencipta semesta tidak boleh dikatakan menempati 1 mata arah, jika Allah SWT dikatakan menempati 1 mata arah, niscaya Allah SWT menempati 1 tempat ".
Jika Allah SWT menempati 1 tempat, maka Allah SWT butuh pada yang menempatkan-Nya.
Maka itu mustahil bagi Allah SWT.
Sifat jaiz bagi Allah SWT
Sifat jaiz bagi Allah SWT ada 1:
1. Fi'lu kulli mumkinen awtarqu( Allah SWT melakukan sesuatu yang mungkin atau meninggalkanya).
Contoh ekstrem secara akal sifat jaiz Allah SWT: " Allah SWT tidak wajib memasukkan seorang sholeh atau nabipu kesyurga , dan juga Allah SWT tidak wajib memasukkan Fir'aun ke neraka. Dan kalau Allah SWT memasukkan seseorang sholeh kedalam syurga bukan karna amalnya akan tetapi karna rahmat dan karunia Allah SWT kepada orang tersebut,dan disaat Allah SWT menyiksa Fir'aun dineraka itu karna keadilan Allah SWT bukan karena kezholiman Allah SWT ".
Allah SWT tidak wajib melakukan sesuatu yang jaiz.
Sebaliknya, contoh ekstrem lagi:
" Boleh Allah SWT memasukkan Fir'aun ke syurga dan boleh Allah SWT memasukkan nabi ke neraka, karna tidak ada yang mengatur Allah, itu pemahaman akal, akan tetapi nabi tidak masuk neraka dan Fir'aun tempatnya di neraka ".
Wallahu a'lam bish shawab,,
Comments
Post a Comment