Kisah sahabat Rasulullah Saw

بسم الله الرحمن الرحيم

🍁 Kisah pilu kerinduan Bilal bin Rabah kapada Rasulullah Saw 🍁
````````````````````````````````````````````````````````

Cerita sahabat Nabi yang sangat dicintai Rasulullah dan sangat mencintai Rasulullah Saw, Sayyidina Bilal bin Rabah.
Sayyidina Bilal bin Rabah disaat setelah meninggal Rasulullah beliau menghadap kepada Sayyidina Abu bakar Ash-Shiddiq dan berkata, " wahai Khalifah, aku minta izin ". " Minta izin apa ? " Tanya Sayyidina Abu bakar. " Tolong izinkan aku untuk tidak azan lagi ". Abu bakar berkata, " Bilal, aku tidak akan menurunkan orang yang pernah diangkat oleh Rasulullah Saw ". Di ulangi lagi, " wahai Abu bakar, tolong dan tolong izinkan aku untuk tidak azan lagi ".
Dijawab oleh Sayyidina Abu bakar, " Tidak, kecuali engkau punya alasan. Alasanmu apa kok minta untuk tidak mau azan lagi ? ". Akhirnya Sayyidina Bilal memberikan alasan dibarengi dengan derai air mata, tiba-tiba Sayyidina Bilal melihat kemenara lalu melihat ke kubur Rasulullah yang dulu adalah kamarnya Rasulullah Saw, melihat kemenara lalu melihat kekubur dan berkata, " wahai Abu bakar, kebiasaan dulu diwaktu Rasulullah Saw masih hidup adalah sebelum waktu sholat membangunkan Rasulullah aku datang ke tempat Rasulullah dan berkata, "ya Rasulullah, waktu sholat", kadang Rasulullah yang datang ke tempatku lalu berkata, "Bilal, waktu sholat", kemudian setelah itu aku bersama Rasulullah mendekat kemenara dan aku naik Rasulullah melihatku lalu aku menghadap ke kiblat, sebelum aku azan aku selalu menoleh melihat Rasulullah yang ditempat itu, kemudian aku melakukan azan dan setelah itu aku turun dan aku disambut Rasulullah Saw. Dan itu aku lakukan sehari 5 kali dan berulang-ulang, sehingga sungguh suasana keadaan itu mengingatkanku kepada Rasulullah sahingga aku tidak mampu melakukan azan lagi saat ini wahai Abu Bakar ". Nostalgia dengan Rasulullah. 
Akhirnya Sayyidina Abu bakar pun menitihkan air mata lalu berkata, " kalau memang alasanmu seperti itu wahai Bilal, boleh boleh ".

Akhirnya Sayyidina Bilal bin Rabah pergi ke Syam, pergi ke Syam beberapa hari bahkan beberapa bulan yang cukup lama. Tiba-tiba suatu malam Sayyidina Bilal bin Rabah bermimpi ketemu Rasulullah Saw yang disaat itu Rasulullah menegurnya, di tegur Rasulullah dalam mimpi, " ya Bilal, alangkah kerasnya hatimu, lama kau tak kunjung kepadaku wahai Bilal ". Cerita ini diriwayatkan oleh Ibnu As-syakir.
Saat itu Sayyidina Bilal terbangun dan menangis dengan tangis yang sangat, sehingga para keluarga pada ketakutan, " ada apa Bilal, ada apa Bilal ? ". Menangis tidak seperti biasanya Sayyidina Bilal hanya bisa berkata, " sungguh aku saat ini merasakan rasa takut yang sangat , dan aku tidak pernah takut seperti saat ini ".
Keluarganya pun bertanya, " memangnya engkau kenapa wahai Bilal ? ".
" Aku bermimpi ketemu Rasulullah Saw " jawab Sayyidina Bilal. " Rasulullah kenapa ? " Tanya keluarganya lagi. " Aku mimpi ketemu Rasulullah dan Rasulullah menegurku, "wahai Bilal, alangkah keras dan gersangnya hatimu, mana kerinduanmu kepadaku, lama kok gak kunjung kepadaku ? " Aku takut ditinggal Rasulullah " jawab Sayyidina Bilal dengan derai air mata takut ditinggal Rasulullah Saw.
Akhirnya keluarga Sayyidina Bilal mengatakan, " Bilal, kelihatannya memang waktunya engkau ziarah kepada Rasulullah, maka pergilah ". Pergilah Sayyidina Bilal bin Rabah.

Dengan kendaraan dalam riwayat onta tau kuda dalam riwayat lain. Berjalan Sayyidina Bilal bin Rabah ke Madinah dan sungguh perjalanan indah karena  perjalanan menuai kerinduan menuju orang yang sangat dicintai, menuju kubur Rasulullah Saw. Berjalan Sayyidina Bilal dengan perjalanan yang tidak kenal lelah, berjalan dan tidak mau istirahat karena yang ada di hati Sayyidina Bilal adalah segera sampai ke Madinah. Berjalan dan berjalan hingga disaat Sayyidina Bilal sudah mulai memasuki kota Madinah maka terlihat bukit-bukit, maka saat itu air mata sudah mulai mengucur، Sayyidina Bilal sadar bahwasanya bukit-bukit itu adalah bukit yang pernah disaksikan oleh Sayyidina Bilal bersama Rasulullah Saw, mulai menangis Sayyidina Bilal. Berjalan dengan derai air mata dan disaat Sayyidina Bilal memasuki kota Madinah sungguh tangis semakin keras , tangis Sayyidina Bilal semakin kuat, Sayyidina Bilal tidak kuat melihat pelosok kota kecuali yang terlihat Rasulullah, tidak melihat bangunan kecuali yang terlihat Rasulullah, tidak melihat hamparan kecuali yang terlihat Rasulullah, karena kenangan indah bersama Rasulullah benar-benar membekas di hati Sayyidina Bilal bin Rabah. Sehingga tangis dan tangis yang ada di kota Madinah mengingatkan Rasulullah Saw. Berjalan Sayyidina Bilal bin Rabah menuju kubur Nabi Muhammad Saw.
Hadirkan diri anda bersama Sayyidina Bilal bin Rabah saat ini.
Sayyidina Bilal menuju kubur Nabi Muhammad Saw dan setelah itu Sayyidina Bilal duduk dan mengucapkan salam akan tetapi salamnya orang yang sudah kehabisan suara karena suara Sayyidina Bilal sudah dihabiskan kerinduannya sepanjang perjalanan, Sayyidina Bilal hanya bisa mengucapkan dengan suara lirih parau dengan berkata, " Assalamu'alaika ya Rasulullah, Assalamu'alaika ya Habiballah, Assalamu'alaika ya Nabiyallah. "
Sayyidina Bilal lalu terduduk dihadapan kubur Nabi Muhammad Saw dengan derai air mata. Dan tiba-tiba saat itu ada yang menepuk kepala Sayyidina Bilal bin Rabah, " Bilal ", Sayyidina Bilal menoleh, ternyata yang menepuknya Sayyidina Abu bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab, lalu Sayyidina Bilal berdiri dan ditegur oleh Khalifah Abu Bakar, " wahai Bilal, engkau menangis dan tangismu tidak seperti biasa ". Lalu Sayyidina Bilal berkata, " wahai Khalifah, sungguh saat ini aku merasakan takut yang sangat ". " Takut kenapa wahai Bilal ? " Tanya Abu bakar. " Aku merasakan takut ". " Iya, takut apa ? " Tanya Sayyidina Abu bakar lagi. " Takut ditinggal oleh Rasulullah ".
Lalu Sayyidina Abu bakar bertanya, " memangnya kenapa engkau, melakukan dosa apa ?"
Kemudian Sayyidina Bilal menceritakan, " aku bermimpi ketemu Rasulullah, Rasulullah menegurku dan berkata, "alangkah kerasnya hatimu, mana kerinduanmu kepadaku ?, Lama kau tak kunjung kepadaku." Ini kalimat yang aku rasakan yang ku fahami dalam mimpi itu, sungguh aku takut ditinggal oleh Rasulullah Saw. "
Kemudian Sayyidina Abu bakar menghibur, " wahai Bilal, ketahuilah air mata yang pernah menangis karena rindu kepada Rasulullah, tidak akan ditinggalkan oleh Rasulullah, dan engkau adalah orang yang tidak akan ditinggal oleh Rasulullah Saw "
" Benarkah begitu wahai Abu bakar ? " 
" Iya, engkau adalah orang yang tidak akan ditinggal oleh Rasulullah. "
Maka bergembiralah Sayyidina Bilal dan merangkul Sayyidina Abu bakar Ash-Shiddiq dan redalah air mata itu. Kemudian setelah air mata reda ngobrol.
Tiba-tiba Sayyidina Abu bakar berkata, " Bilal, mumpung kamu di Madinah, bagaimana kalau kamu azan lagi ? "
Tiba-tiba Sayyidina Bilal saat mendapat tawaran itu Sayyidina Bilal menoleh ke menara lalu melihat ke kubur Nabi Muhammad, air mata yang sudah terhenti itu mulai berderai lagi. Melihat kemenara dan menoleh kekubur lalu menggelengkan kepalanya, " Tidak wahai Abu bakar, tidak wahai Umar, aku belum kuat untuk azan. "
Kemudian, tidak lama kemudian ada anak-anak kecil , 2 orang anak kecil datang kepada Sayyidina Bilal bin Rabah. Yang satu membonceng tangan kanan Sayyidina Bilal, dan yang satunya lagi membonceng tangan kiri Sayyidina Bilal, " Hai tukang azan kakekku ! " Terkaget Sayyidina Bilal lalu menoleh, ternyata dikanannya Sayyidina Hasan dan dikirinya Sayyidina Husein. Sayyidina Bilal betul-betul kaget dan mengangkat tangan, " Ya Allah, terimakasih. Aku rindu kepada kekasihmu Nabi Muhammad dan telah kau kirim kepadaku orang yang sangat dikasihi oleh kekasihmu Nabi Muhammad."
Kemudian Sayyidina Bilal menghadap kepada Sayyidina Hasan lalu Sayyidina Hasan diberdirikan dan menghadap kepada Sayyidina Husein lalu Sayyidina Husein diberdirikan, lalu Sayyidina Bilal melihat wajah Sayyidina Hasan kemudian melihat kaki Sayyidina Husein, berpindah kepada wajah Sayyidina Hasan menoleh lagi ke kaki Sayyidina Husein karna ketahuilah wajah Sayyidina Hasan sangat mirip dengan Rasulullah dan kaki Sayyidina Husein sangat mirip dengan Rasulullah, sehingga Sayyidina Bilal menoleh ke wajah yang sangat mirip dengan Rasulullah menoleh kepada kaki yang sangat mirip dengan Rasulullah sehingga setelah itu dipeluklah kedua anak kecil ini, 2 anak kecil ini dipeluk oleh Sayyidina Bilal bin Rabah dengan derai air mata dan berkata, " Ya Rasulullah, sungguh bau keringatmu aku temukan dicucumu ya Rasulullah. "
Sampai keringatnya diingatkan kepada Rasulullah Saw, luar biasa. Itulah makna kecintaan kepada Rasulullah Saw.

Tiba-tiba tidak lama kemudian, Sayyidina Hasan dan Husain berkata, " Bilal, aku kangen pengen denger azanmu. Bagaimana kalau kamu azan ? ".
Sayyidina Bilal bingung, menoleh kepada Sayyidina Abu bakar dan Sayyidina Umar, akhirnya Sayyidina Umar dan Sayyidina Abu bakar mengatakan, " lakukan ! "
Lihat hubungan baik antara sahabat Nabi dengan cucu Rasulullah, biarpun anak kecil akan tetapi dihargai oleh Sayyidina Abu bakar dan Sayyidina Umar bin Khattab.
Kemudian Sayyidina Bilal menoleh, " Wahai Hasan dan Husain, sebelum engkau meminta  Khalifah dan wakilnya memintaku untuk azan tapi aku tolak, akan tetapi karena yang meminta saat ini adalah dirimu wahai Sayyidina Hasan dan Husain cucu Rasulullah, aku tidak berani menolak, sebab aku takut jika aku menolak permintaamu saat ini, aku takut nanti ditolak untuk azan didepan Rasulullah di Surga nanti. " 
Masyaallah dihubungkan dengan Rasulullah.

Akhirnya, ditentukanlah waktu azannya Sayyidina Bilal bin Rabah. Waktu sudah ditentukan beberapa orang sudah datang menunggu, " Kapan Bilal mulai azan ? Kapan Bilal mulai azan ? ".
Datanglah waktunya, dalam riwayat lepas sahur waktu subuh. Orang-orang  pada menunggu, " Mana Bilal ? Mana Bilal ? ".
Tiba-tiba ada orang yang berdiri disaat sudah masuk waktu sholat. Ada orang yang berdiri memang hitam tapi memancar dari kehitamannya ini penuh kecintaan kepada Rasulullah Saw.
Orang pada melihat Sayyidina Bilal yang berdiri di tempat yang biasanya dulu berdiri Sayyidina Bilal bin Rabah, maka suasana itu mengingatkan kepada Rasulullah Saw. Sehingga mulai berjatuhan air mata dari orang yang hadir di tempat itu, kemudian Sayyidina Bilal berjalan yang berjalannya Sayyidina Bilal tidak berubah seperti dahulu, maka semakin mengingatkan kenangan mereka kepada Rasulullah sehingga yang hadir pada mulai menangis dan perlahan-lahan Sayyidina Bilal memecah barisan kemudian menuju ke menara, disaat naik menara mereka semakin kuat bahwasanya seperti inilah yang pernah dilakukan dulu bersama Rasulullah Saw.
Sayyidina Bilal diatas dengan berderai air mata lalu melihat ke tempat yang biasanya Rasulullah ada ditempat itu. Sayyidina Bilal hanya bisa menutup matanya dan membasuh air matanya, disitulah dulu aku pernah melihat Rasulullah Saw.
Menangis orang yang hadir di masjid dibarengi dengan tangisnya Sayyidina Bilal bin Rabah.
Sehingga disebutkan tidak ada tangis di Madinah lebih banyak, lebih dahsyat daripada saat itu.

Akhirnya Sayyidina Bilal memulai azannya, " Allahuakbar Allahuakbar " mulai terdengar dimana-mana,dan sungguh berbarengan dengan suaranya Sayyidina Bilal ini serempak orang yang ada disitu  terdengar dari suara jamaah suara tangis yang kompak " Huuu ".
Sayyidina Bilal pun melanjutkan azannya, " Allahuakbar Allahuakbar " para jamaah sambil menjawab suara azan Sayyidina Bilal tangis semakin kuat bahkan ada diantara mereka yang berjatuhan pingsan.
Apa yang menjadikan mereka menangis ?
Apa yang menjadikan mereka seperti itu ?
Ingat Nabi Muhammad Saw, karena semua yang terjadi disaat itu mengingatkan kenangannya kepada Rasulullah Saw.
Sehingga orang yang diluar masjid pun , ibu-ibu yang belum sempat datang mendengar suaranya Sayyidina Bilal bin Rabah bergegas menuju masjid, lalu berkata, " Apakah Rasulullah dibangkitkan lagi ? ".
Karena, kalau dulu disaat mendengar suaranya Sayyidina Bilal mesti ada Rasulullah. Jadi disaat mendengar suara Bilal yang lama hilang, seolah-olah Rasulullah hadir kembali sehingga mereka bertanya, " apakah Rasulullah dibangkitkan lagi ? ". Dijawab oleh orang yang ada disitu, " Tidak, itu suaranya Bilal ". Lalu orang itu sambil menundukkan kepalanya, " oh, suara Bilal ".

Sayyidina Bilal melanjutkan azan beliau, " Asyhaduallailahailallah ". Suara tangis semakin ramai hingga sampai Sayyidina Bilal bin Rabah kapada kalimat, " Asyhaduanna Muhammadan " hilanglah suara Sayyidina Bilal, ternyata Sayyidina Bilal terpingsan disaat itu, disaat menyebutkan  Muhammad dan ternyata disaat itu pun dibarengi dengan orang-orang yang seperti Sayyidina Bilal pada jatuh pingsan. Sehingga disaat tersadar Sayyidina Bilal hanya mampu berkata, " Lanjutkan, aku tidak mampu melanjutkan. "

Masyaallah, ini adalah makna kecintaan 
Tinggal kita melihat disaat kita  membaca nama Nabi Muhammad Saw disebutkan seperti apa kerinduan kita kepada Rasulullah.
Ini hanya sebatas perbandingan biarpun tidak sebanding.
Minimal kita koreksi bagaimana disaat disebut Nabi Muhammad, bagaimana kalau disebut tentang Nabi Muhammad kita nomor satukan, kita utamakan dirumah kita, kita utamakan di dalam kehidupan kita Rasulullah Saw.
" Seseorang nanti akan bersama yang dicintai, Rasulullah Saw ".
Semoga Allah SWT benar-benar menjadikan kita orang-orang yang dicintai dan mencintai Rasulullah Saw dan kelak berkumpul bersama Rasulullah Saw di surga.
Amin🤲
اللهم صل على سيدنا محمد





Comments

Popular posts from this blog

Hukum akal dalam keimanan

Kisah penuh hikmah

Mengenal sifat-sifat Allah SWT dalam Aqidah Ahlussunah wal jama'ah